Sejarah Gulag, Camp Kerja Paksa Uni Soviet (Part 2)

Berbicara tentang Gulag memang tidak bisa terlepas dari sosok Joseph Stalin, sang diktator yang terkenal dengan sifat paranoidnya. Setelah Lenin meninggal dunia tahun 1924, kematiannya menyebabkan kekosongan kekuasaan yang diperebutkan beberapa faksi di Uni Soviet. Diantaranya yang terkuat adalah Leon Trotsky dan Joseph Stalin. Perebutan kekuasaan ini akhirnya dimenangkan oleh Joseph Stalin dan kemenangan Stalin membuat Leon Trotsky yang merasa terancam segera pergi dan mengasingkan diri.

Sekalipun demikian, Akibat sikapnya yang penuh akan kecurigaan, Stalin khawatir jika bawahannya yang sebagian besar merupakan teman maupun anggota Leon Trotsky merasa tidak puas dengan kepemimpinannya. Ia khawatir juga bawahannya diam-diam sedang merencanakan pemberontakan untuk menggulingkannya dari kekuasaan dan mengembalikan Trotsky sebagai pemimpin mereka. Hal ini membuat Stalin mengambil beberapa kebijakan seperti memperkuat organisasi rahasia OGPU untuk menekan dan menangkap beberapa yang dianggap sebagai musuh negara dan yang mengancap kekuasaannya.

Di kemudian hari OGPU bertransformasi NKVD, dan akhirnya bertransformasi kembali menjadi KGB. Hilangnya Trotsky membuat Stalin memerintahkan agen-agen rahasi Uni Soviet untuk pergi memburu Leon Trotsky ke seluruh dunia, ia percaya hanya dengan kematian Trotsky kekuasaannya di Uni Soviet menjadi lebih terjamin. Namun karena keberadaan Trotsky belum diketahui, sikap paranoid Stalin semakin menjadi-jadi yang membuatnya semakin meragukan kesetian dari para perwira pasukan merah terhadap kepemimpinannya. Terlebih secara organisasi, pendiri utama dari pasukan merah adalah Leon Trotsky. Hal ini diperburuk dengan sikap para pemimpin pasukan merah yang secara terbuka mempertanyakan atau melawan kebijakan dari Stalin.

Sikap-sikap non korporatif bahwannya yang seperti ini semakin membuat sikap paranoid Stalin semakin menjadi-jadi. Tidak heran jika pada akhirnya, sang diktator paranoid mengambil kebijakan yang paling kontroversial yaitu pembersihan besar-besaran pasukan merah yang dilakukan dari tahun 1936 – 1938. Pembersihan yang dilakukan oleh Joseph Stalin dengan menggunakan kepolisian rahasia NKVD memiliki pengaruh yang sangat buruk terhadap pasukan merah baik secara kepemimpinan maupun organisasi.

Tidak sedikit dari perwira pasukan merah yang menjadi korban, diantaranya termasuk Michail Tukhachevsky yang sering kali dianggap sebagai perwira Uni Soviet yang paling jenius karena keberhasilannya memodernisasi militer pasukan merah. Pembersihan ini sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan tertinggi dari pasukan merah.

Diantara 101 perwira tinggi, 91 ditangkap dan diantara 91 orang tersebut 81 orang diantaranya ditembak mati. dan 3 dari 5 panglimat tertinggi pasukan merah juga ditembak mati karena dianggap Stalin sedang merencanakan pemberontakan melawan rezimnya. Sedangkan panglima-panglima lainnya dibunuh karena pernah bertentangan dengan kebijakannya. Dua panglima yang masih tersisa, dipertahankan bukan karena kompetensinya, melainkan karena kedekatannya dengan sang diktator.

Sesuai dengan rencana organisasi kepolisian rahasia NKVD diperintahkan menembak mati kurang lebih 75.000 orang dan menahan kurang lebih 225.000 orang. Sekalipun demikian sampai dengan tahun 1938 jumlah tersebut jauh melonjak dimana kurang lebih 770 orang ditembak mati dan lebih dari 1.500.000 lainnya ditahan di berbagai kamp Gulag. Melonjaknya angka tersebut tidak terlepas dari pembersihan yang dilakukan oleh NKVD sekalipun awalnya pembersihan tersebut bertujuan untuk merevormasi pasukan merah yang dicurigai sebagai pasukan mengikut Trotsky. Namun pada prakteknya pembersihan tersebut semakin meluas dan merambah ke masyarakat umum.

NKVD dengan mudah menangkap dan menahan individu yang dianggap membahayakan Uni Soviet dan Joseph Stalin. Seiring dengan berjalannya waktu siapa saja di Uni Soviet yang menggunakan nama Stalin secara tidak horman terancam menjadi tahanan baru di kamp Gulag. Jumlah tahanan Gulag mengalami penurunan saat Uni Soviet di invasi Jerman, apa penyebabnyak?. Pasukan merah membutuhkan sebanyak mungkin personel demi menahan laju musuh yang seakan tak terbendung.

Tahun 1941 hingga 1944, otoritas yang berwenang mengumunkan amnesti bagi para tahanan yang ingin menebus dosanya dengan bertempur melawan invasi penjajah. Kurang lebih 975.000 tahanan menerima amnesti, para tahanan ini diperintahkan untuk maju melawan Jerman dalam bentuk gelombang demi gelombang manusia. Dibelakannya tedapat batalion pasukan dengan senapan otomatisnya yang siap menembak siapapun yang mencoba untuk kabur.

Setelah perang dunia ke 2 berakhir, Uni Soviet memiliki banyak tahanan perang, banyak diantaranya yang dikirim ke kamp Gulag di Siberia. Jumlah populasi Gulag mencapai puncaknya pada tahun 1950, tercatat sebanyak 2.525.146 tahanan. Sejak kematian Joseph Stalin, tahun 1953, jumlah tahanan terus mengalami penurunan, hanya 22 hari setelah kematian Stalin kurang lebih 1.000.000 tahanan mendapatkan pengampunan. Seiring dengan dijalankannya Destalinisasi oleh Nikita Khrushchev, akhirnya pada tahun 1968, Michail Gorbachev secara remsi mengumunkan membebaskan seluruh tahanan politik dan secara resmi menutup kamp Gulag.