Republik Romawi, Monarki Hingga Kekaisaran (Part 2)

Sistem yang cukup kompleks ini mampu menciptakan stabilitas domestik untuk beberapa waktu, setiap posisi memiliki Check and Balance nya masing-masing. Mungkin hanya senat yang berperan sebagai institusi oligarkis Romawi yang menjaga posisi kelas elit di Roma. Stabilitas ini bertahan hingga abad ke 3 sebelum masehi, dimasa tersebut pecahlah sebuah perang diantara republik Romawi dengan bangsa Venesia, perang tersebut dijuluki perang Tunisia.

Setelah republik Romawi menang, dominasinya meluas dari semenanjung Iberia hingga timur tengah. Ketika sudah tidak ada lagi negara yang mampu menyaingi republik Romawi, masalah justru muncul dari dalam karena kesenjangan sosial yang sangat tinggi, persaingan politis yang sangat sengit, dan juga politikus-politikus yang sangat ambisus, akhirnya republik Romawi jatuh kedalam periode perang saudara.

Pertama diantara Gaius Marius dan Sulla, lalu diantara Julus Caesar dan Pompey Magnus dan yang terakhir diantara Octavian dan Mark Antoni. Kemenangan Octavian atas Mark Antoni dan perubahan namanya menjadi Agustus dijadikan sebagai patokan dimulainya era baru bagi bangsa Romawi yaitu era kekaisaran Romawi. Secara taktis dan de facto, republik Romawi telah berakhir dan kekuasaan yang tadinya dipegang oleh kelompok pejabat terpilih, senat dan dewan majelis beralih ke 1 orang saja yaitu seorang kaisar.

Meski demikian, Agustus membentuk sistem pemerintahan yang sangat unik, mencampurkan kekuasaan Autocratic dengan tradisi republik yang dijaga. Setiap tahunnya, dewan majelis masih memilih pejabat terpilih meskipun keputusan akhir mengenai posisi ini berada di tangan kaisar dan biasanya posisi-posisi ini diduduki oleh kerabat kaisar. Agustus juga tidak pernah memegang gelas emperor atau caesar sebagaimana istilah tersebut dimengerti sekarang. Agustus lebih memilih gelar Pinceps Civitatis yang biasa diterjemahkan sebagai warga pertama.

Jika demikian, mengapa Octavian menggunakan gelar Caesar, gelar ini tidak bisa dipisahkan dari Julis Caisar, seorang pemimpin militer jenius yang demikian terkenal dan berpengaruh. Namun ia terbunuh akibat konspirasi sekelompok politikus dan pejabat yang merasa kuasanya sudah demikian besar dan mengancam republik Romawi. Menyadari hal ini, Octavian bertindak dengan sangat hati-hati dan tidak terlalu mengusik tradisi republik yang sudah bertahan begitu lama di bangsa Romawi.

Uniknya lagi, penulis, negarawan, dan masyarakat umum bangsa Romawi masih merujuk negara mereka sebagai Res Publica atau juga dengan nama resmi negara Roma pada masa republik yaitu Senatus Populusgue Romanus. Yang dapat diterjemahkan sebagai senat dan rakyat Romawi, template kekuasaan warisan Agustus ini terus bertahan lebih dari 2 abad sampai setelah krisis hebat bagi bangsa Romawi pada abat ke 3 masehi yang disebut krisis abad ke 3.

Kaisar pada saat itu yaitu pada 284 masehi merubah sistem Principate Agustus menjadi Dominate. Kaisar sudah tidak lagi dirujuk sebagai Princeps tapi sebagai Dominus, bukan lagi warga pertama tapi baginda raja. Setelah kejatuhan Romawi barat pada tahun 476 masehi, sistem pemerintahan yang mendominasi tentunya adalah monarki. Seorang monark dan dinastinya menjadi penguasa yang berdaulat atas sebuah negara, wilayah, dan penduduknya didalam suatu masyarakat yang feodal meskipun sudah pasti bervariasi dari negara ke negara.

Kejatuhan Romawi barat menandakan babak zaman baru yang disebut sebagai Early Middle Age. Eksistensi bangsa Romawi masih diteruskan oleh kekaisaran Romawi timur atau yang juga disebut sebagai kekaisaran Byzantine dan terus eksis melewati abad pertengahan dan juga menjadi sebuah kekuatan besar. Bentuk pemerintahan republik dimana pejabat terpilih menjalankan roda pemerintahan hanya dijalankan oleh beberapa negara saja seperti Republik of Venice.

Ketertarikan besar atas bentuk pemerintahan republik baru muncul lagi pada Late Middle Ages dan Ages of Reinaissance dimana karya-karya latin kuno seperti karya Plutarch dan Cicero mulai ditemukan kembali. Kemunculan negara kota Italia seperti Genoa yang memilih bentuk republik dan juga muncul Mercantile Republic. Setelah itu juga terjadi berbagai revolusi yang dimotivasi keinginan besar untuk menjadikan negaranya sebagai negara republik khususnya pada abad ke 17 dan 18 seperti di Inggris dengan Englis Civil War, France Revolution, dan tentunya American Revolution.

Amerika Serikat mendapatkan inspirasi dari republik Belanda dan republik Romawi, bahkan masa kepemimpinan presiden dua periode seringkali dikaitkan dengan kekaguman George Washington akan tokoh Romawi yang bernama Lucius Quinticus Cincinnatus. Di abat ke 19, arus sejarah kembali berbalik dan monarki bahkan monarkisme yang lebih absolut kembali mendominasi didaratan Eropa dengan munculnya figur-figur seperti Napoleon Bonaparte dan Otto Von Bismarck. Setelah selesainya perang dunia pertama dan kedua, bentuk negara republik kembali mendominasi bentuk pemerintahan negara-negara didunia khususnya di negara-negara bekas jajahan Eropa seperti negara Indonesia ini.

Republik Romawi, Monarki Hingga Kekaisaran (Part 1)

Republik merupakan istilah yang sangat sering kita dengar di zaman yang modern ini. Negara kita Indonesia juga menganut sistem pemerintahan ini, republik sebagai sisitem pemerintahan memang bukan merupakan inovasi yang baru melainkan sudah memiliki sejarah yang sangat panjang. Meskipun demikian, disepanjang sejarah, umumnya sistem pemerintah yang digunakan bukanlah berbentuk republik melainkan berbentuk kerajaan atau kekaisaran dimana terdapat seorang pemimpin yang berkuasa penuh.

Karenanya tidak mengherankan jika sepanjang sejarah kita lebih sering menemukan nama raja atau ratu yang sangat berpengaruh dan bukanlah seorang presiden dari negara yang berbentuk republik. Dalam sejarah kita dapat melihat beberapa bentuk negara republik misalnya republik Venesia dan republik Belanda, Republik Amerika, Revolusi Prancis dan sebagainya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut sistem pemerintahan berbentuk republik, namun saat membicarakan mengenai republik apakah kamu mengetahui sejarah dari republik itu sendiri. Istilah republik memiliki sejarah yang sangat panjang, istilah republik dari Romawi berbeda dengan istilah demokrasi dari Athena. Kedua istilah ini memiliki sejarah yang sangat panjang, karena dalam artikel ini yang dibahas adalah republik, kami tidak akan menjelaskan tentang demokrasi Athena.

Sejarah Awal dari Kemunculan Sistem Pemerintahan Republik

Istilah republik digunakan oleh penulis dan negarawan bangsa Romawi untuk merujuk pada negara mereka sendiri. Republik yang dalam bahasa latin kuno merupakan penggabungan dari 2 kata dasar yaitu Res dan Publica dimana Res berarti benda, barang atau juga kepemilikan. Sedangkan Publica merupakan bentuk feminin dari kata Publicus yang berarti publik, masyarakat atau warga.

Jadi Res Publica bisa diterjemahkan sebagai barang publik atau bisa dipahami juga sebagai persoalan publik. Kata Res Publica ini lalu berkembang dalam berbagai bahasa dan muncullah kata republik dari bahasa Indonesia. Lalu apa asal usul yang lebih mendalam lagi tentang istilah ini?, kita perlu kembali lebih jauh tepatnya pada tahun 509 sebelum masehi, tahun dimana raja terakhir bangsa Romawi diasingkan dari kota Roma dan bangsa Romawi bersumpah untuk tidak pernah dipimpin oleh seorang raja.

Pertama untuk memberi konteks, kota Roma dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan tunggal sampai 6 raja penerusnya. Lucius Tarquinius Superbus, adalah raja ketujuh sekaligus raja terakhir di kota Roma. Namun karena perbuatannya menimbulkan konflik diantara kelompok bangsawan Romawi ia akhirnya dibuang dari kota Roma. Revolusi ini dipimpin oleh Lucius Junius Brutus dan Lucius Tarquinius Collatinus.

Setelah raja terakhir dalam sistem monarki Romawi diasingkan, bangsa Romawi mendirikan sistem pemerintahan yang baru dengan apa yang dikenal oleh masyarakat modern sebagai republik Romawi. Bangsa Romawi pada akhirsnya menghapus kedudukan raja, dalam membagi-bagi kekuasaan yang ditinggalkan oleh raja bangsa romawi membentuk berbagai institusi baru yang bisa secara luas kita kelompokkan dalam 3 institusi utama yaitu senat, pejabat terpilih dan dewan majelis.

Pejabat terpilih berkapasitas untuk menjalankan pemerintahan negara, berbagai macam dewan majelis berkapasitas untuk memilih pejabat dan mengesahkan undang-undang. Lalu senat berperan sebagai pengawas bagi jalannya pemerintahan. Kami akan kupas lebih lanjut mengenai institusi-institusi ini, terdapat 4 kedudukan utama dalam pejabat terpilih yang diurutkan sesuai dengan tingkat kewenangan mereka yaitu dari tingkat yang paling rendah hingga yang teratas.

Quaestor yang berperan sebagai akuntan harta negara, Aediles yang berperan sebagai administrator domestik di Roma, Praetors yang berperan sebagai hakim dan memiliki komando pasukan Romawi, dan Consuls yang berperan sebagai pengaju undang-undang dan komandan tertinggi dalam pasukan Romawi. Dalam menjaga stabilitas negara, politik tidak dikuasai oleh individu, pejabat-pejabat ini digantikan setiap tahunnya melalui pemilihan umum dewan majelis.

Senat Romawi sendiri merupakan badan negara yang memiliki kewenangan untuk mengawasi, mengarahkan kebijakan domestik, dan membentuk kebijakan militer dan kebijakan luar negeri. Senat terdiri dari 300 hingga 500 negarawan-negarawan yang memiliki kekayaan sesuai dengan ambang batas yang telah ditentukan dan juga dari bekas-bekas pejabat terpilih yang telah habis masa kedudukannya. Dalam perkembangannya, institusi ini didominasi oleh kelas elit bangsawan yang disebut kelas Patrician sedangkan kelas non bangsawan disebut kelas Plebian.

Merasa tidak puas dengan dominasi kelas Patrician, terjadi apa yang disebut dengan Secessio Plebis atau pemisahan diri warga Plebian yang merupakan suatu bentuk unjuk rasa besar-besaran untuk menuntut hak politik yang lebih. Protes pertama terjadi pada tahun 494 sebelum masehi dan kembali terjadi sebanyak 4 kali, yang terakhir adalah tahun 287 sebelum masehi.

Karena tekanan dari protes ini, maka dibentuklah posisi khusus yang diberinama Tribune Of The Plebs, fungsi dari jabatan ini adalah sebagai fungsi pengawasan untuk kekuasaan pejabat-pejabat terpilih lainnya dengan memberikan Tribune Of The Plebs yang berupa hak untuk veto terhadap keputusan-keputusan para pejabat. Kekuatan yang cukup besar ini dibagi menjadi 10 individu sebagai Tribune Of The Plebs yang terpilih setiap tahunnya melalui dewan baru yang diberi nama Council Of The Plebs dimana hanya masyarakat Plebian yang dapat memberikan suaranya.

Sejarah Gulag, Camp Kerja Paksa Uni Soviet (Part 2)

Berbicara tentang Gulag memang tidak bisa terlepas dari sosok Joseph Stalin, sang diktator yang terkenal dengan sifat paranoidnya. Setelah Lenin meninggal dunia tahun 1924, kematiannya menyebabkan kekosongan kekuasaan yang diperebutkan beberapa faksi di Uni Soviet. Diantaranya yang terkuat adalah Leon Trotsky dan Joseph Stalin. Perebutan kekuasaan ini akhirnya dimenangkan oleh Joseph Stalin dan kemenangan Stalin membuat Leon Trotsky yang merasa terancam segera pergi dan mengasingkan diri.

Sekalipun demikian, Akibat sikapnya yang penuh akan kecurigaan, Stalin khawatir jika bawahannya yang sebagian besar merupakan teman maupun anggota Leon Trotsky merasa tidak puas dengan kepemimpinannya. Ia khawatir juga bawahannya diam-diam sedang merencanakan pemberontakan untuk menggulingkannya dari kekuasaan dan mengembalikan Trotsky sebagai pemimpin mereka. Hal ini membuat Stalin mengambil beberapa kebijakan seperti memperkuat organisasi rahasia OGPU untuk menekan dan menangkap beberapa yang dianggap sebagai musuh negara dan yang mengancap kekuasaannya.

Di kemudian hari OGPU bertransformasi NKVD, dan akhirnya bertransformasi kembali menjadi KGB. Hilangnya Trotsky membuat Stalin memerintahkan agen-agen rahasi Uni Soviet untuk pergi memburu Leon Trotsky ke seluruh dunia, ia percaya hanya dengan kematian Trotsky kekuasaannya di Uni Soviet menjadi lebih terjamin. Namun karena keberadaan Trotsky belum diketahui, sikap paranoid Stalin semakin menjadi-jadi yang membuatnya semakin meragukan kesetian dari para perwira pasukan merah terhadap kepemimpinannya. Terlebih secara organisasi, pendiri utama dari pasukan merah adalah Leon Trotsky. Hal ini diperburuk dengan sikap para pemimpin pasukan merah yang secara terbuka mempertanyakan atau melawan kebijakan dari Stalin.

Sikap-sikap non korporatif bahwannya yang seperti ini semakin membuat sikap paranoid Stalin semakin menjadi-jadi. Tidak heran jika pada akhirnya, sang diktator paranoid mengambil kebijakan yang paling kontroversial yaitu pembersihan besar-besaran pasukan merah yang dilakukan dari tahun 1936 – 1938. Pembersihan yang dilakukan oleh Joseph Stalin dengan menggunakan kepolisian rahasia NKVD memiliki pengaruh yang sangat buruk terhadap pasukan merah baik secara kepemimpinan maupun organisasi.

Tidak sedikit dari perwira pasukan merah yang menjadi korban, diantaranya termasuk Michail Tukhachevsky yang sering kali dianggap sebagai perwira Uni Soviet yang paling jenius karena keberhasilannya memodernisasi militer pasukan merah. Pembersihan ini sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan tertinggi dari pasukan merah.

Diantara 101 perwira tinggi, 91 ditangkap dan diantara 91 orang tersebut 81 orang diantaranya ditembak mati. dan 3 dari 5 panglimat tertinggi pasukan merah juga ditembak mati karena dianggap Stalin sedang merencanakan pemberontakan melawan rezimnya. Sedangkan panglima-panglima lainnya dibunuh karena pernah bertentangan dengan kebijakannya. Dua panglima yang masih tersisa, dipertahankan bukan karena kompetensinya, melainkan karena kedekatannya dengan sang diktator.

Sesuai dengan rencana organisasi kepolisian rahasia NKVD diperintahkan menembak mati kurang lebih 75.000 orang dan menahan kurang lebih 225.000 orang. Sekalipun demikian sampai dengan tahun 1938 jumlah tersebut jauh melonjak dimana kurang lebih 770 orang ditembak mati dan lebih dari 1.500.000 lainnya ditahan di berbagai kamp Gulag. Melonjaknya angka tersebut tidak terlepas dari pembersihan yang dilakukan oleh NKVD sekalipun awalnya pembersihan tersebut bertujuan untuk merevormasi pasukan merah yang dicurigai sebagai pasukan mengikut Trotsky. Namun pada prakteknya pembersihan tersebut semakin meluas dan merambah ke masyarakat umum.

NKVD dengan mudah menangkap dan menahan individu yang dianggap membahayakan Uni Soviet dan Joseph Stalin. Seiring dengan berjalannya waktu siapa saja di Uni Soviet yang menggunakan nama Stalin secara tidak horman terancam menjadi tahanan baru di kamp Gulag. Jumlah tahanan Gulag mengalami penurunan saat Uni Soviet di invasi Jerman, apa penyebabnyak?. Pasukan merah membutuhkan sebanyak mungkin personel demi menahan laju musuh yang seakan tak terbendung.

Tahun 1941 hingga 1944, otoritas yang berwenang mengumunkan amnesti bagi para tahanan yang ingin menebus dosanya dengan bertempur melawan invasi penjajah. Kurang lebih 975.000 tahanan menerima amnesti, para tahanan ini diperintahkan untuk maju melawan Jerman dalam bentuk gelombang demi gelombang manusia. Dibelakannya tedapat batalion pasukan dengan senapan otomatisnya yang siap menembak siapapun yang mencoba untuk kabur.

Setelah perang dunia ke 2 berakhir, Uni Soviet memiliki banyak tahanan perang, banyak diantaranya yang dikirim ke kamp Gulag di Siberia. Jumlah populasi Gulag mencapai puncaknya pada tahun 1950, tercatat sebanyak 2.525.146 tahanan. Sejak kematian Joseph Stalin, tahun 1953, jumlah tahanan terus mengalami penurunan, hanya 22 hari setelah kematian Stalin kurang lebih 1.000.000 tahanan mendapatkan pengampunan. Seiring dengan dijalankannya Destalinisasi oleh Nikita Khrushchev, akhirnya pada tahun 1968, Michail Gorbachev secara remsi mengumunkan membebaskan seluruh tahanan politik dan secara resmi menutup kamp Gulag.

Sejarah Gulag, Camp Kerja Paksa Uni Soviet (Part I)

Gulag adalah sebutan dari sistem camp kerja paksa yang muali beroperasi dimasa pemerintahan Vladimir Lenin, sang pendiri dari Uni Soviet. Gulag sendiri merupakan singkatan dari Glavnoe Upravlene Lagerei yang bila diterjemahkan artinya adalah Kamp Administrasi Utama.  Sekalipun sudah ada sejak kepemimpinan Lenin, Gulag baru menjadi terkenal saat kepemimpinan Joseph Stalin, dimasa kepemimpinannya Gulag mendapatkan perhatian yang jauh lebih banyak. Kapasitas tahanan terus dikembangkan seiring dengan semakin banyak tahanan yang ditahan di kamp Gulag.

Tahun 1936 saja Gulag sudah menampung sebanyak jutaan tahanan, jumlah tahanan yang demikian besar tidak hanya ditahan di suatu tempat melainkan terbagi diantara berbagai kamp tahanan yang tersebar di daerah Uni Soviet khususnya Siberia. Diantara semua tahanan sebagian besar dapat dikelompokkan sebagai tahanan politik, yaitu mereka yang dianggap tidak setuju, dirugikan atau melawan komunisme. Sedangkan sebagian lainnya adalah pelaku kriminal yang memang melanggar peraturan dari Uni Soviet.

Sekalipun demikian, tahukah kalian istilah Gulag sebenarnya tidak terlalu dikenal oleh masyarakat umum sebelum tahun 1973. Pada tahun 1973, seorang novelis Rusia yang bernama Alexander menuliskan pengalamannya sendiri sebagai korban dalam sebuah karya yang berjudul The Gulag Archipelago. Dalam karyanya tersebut ia menjelaskan bagaimana alasannya ditahan selama 8 tahun di Gulag dan apa saja yang ia dan narapidana lainnya alami.

Karyanya dibagi menjadi 3 bagian, bagian pertama dan kedua lebih menjelaskan bagaimana proses penangkapan, proses pengadilan, proses pemindahan, dan proses penahanan yang dilakukan oleh otoritas pemerintah dibawah polisi rahasia Uni Soviet. Sedangkan karyanya yang ke 3 lebih banyak menceritakan berbagai macam usaha perlawanan dan pelarian diri dari sistem tersebut. The Gulag Archipelago merupakan maha karya dari Alexander yang menyadarkan dunia akan keberadaan dari kamp Gulag dan bagaimana menakutkannya pemerintahan Uni Soviet dibawah Rezim Joseph Stalin.

Gulag mulai beroprasi sejak tahun 1919 dan masih terus beroperasi sampai dengan masa kepemimpinan Michail Gorbachev. Gulag didirikan ketika perang saudara Rusia masih berlangsung, tidak mengherankan jika penghuni Gulag memiliki banyak kemiripan seperti ketidak sukaannya terhadap faksi komunis. Siapa sajakah mereka?, cukup mudah untuk menebaknya, yang pertama para petani kaya dan tuan tanah yang umumnya berasal dari Ukraina. Yang kedua, tahanan dari kalangan militer yang dalam perang saudara Rusia memihak kepada Tsar. Yang ketika, adalah kalangan cendikiawan seperti profesor, penulis, seniman, musisi, budayawan, agamawan dan lainnya yang dianggap tidak setuju akan komunisme dari Lenin dan kelompoknya.

Untuk pertama kalinya Gulang menerima banyak kebijakan komunisme dari Lenin dan kelompoknya. Gulag menerima tahanan baru ketika Uni Soviet mengumunkan berbagai kebijakan baru seperti di bidang pertanian kolektif yang dengan cepat mengirimkan para pemilik lahan atau para pekerja yang masih dianggak kurang miskin untuk ditahan di Gulag.

Seiring dengan berjalannya waktu, Gulag semakin dimanfaatkan sebagai alat politik yang bermanfaat untuk menekan lawan-lawan politik dan menjaga stabilitas kekuasaan pemimpin Uni Soviet. Beberapa kebijakan yang sangat terkenal dan berpengaruh dalam meningkatkan penghuni Gulag daintaranya adalah kampanye melawan Kulaks yang dimulai pada 1930 hingga 1933.

Menurut kebijakan ini, petani diwajibkan untuk menyerahkan seluruh hasil panen yang dimilikinya kepada pemerintah. Bagi siapapun yang menyembunyikan hasil panennya, bahkan sedikitpun akan langsung dianggap sebagai musuh dari masyarakat. Tidak jarang hanya karena iri dengan jumlah ternak atau hasil panen yang lebih sukses dari tetangganya, para petani saling memfitnah tetangganya sendiri sebagai anti komunis atau anti pemerintah pada pihak otoritas.

Dampak dari hal itu, Uni Soviet mengucilkan kurang lebih 2 juta petani ke Siberia dan menahan lebih dari 100.000 petani di kamp Gulag, dan beberapa diantaranya langsung ditembak mati ditempat. Yang kedua adalah permasalahan Kirov, masalah ini dimulai ketika Sergei Kirov, salah satu pemimpin partai komunis yang memiliki hubungan dekat dengan Stalin terbunuh di kota Leningrad. Marah karena sahabatnya terbunuh, Stalin memerintahkan penahanan masal yang mengakibatkan kurang lebih 400.000 masyarakat segera ditangkap dan dikirimkan ke kamp Gulag.